• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Balai banjar tampak ramai, rangka raksasa juga terpampang disana. Para pemuda terlihat sibuk menyelesaikannya, mengingat hari raya sudah di depan mata.

 

     Nyepi, merupakan salah satu hari raya besar bagi umat hindu. Merayakan Nyepi, tak lengkap rasanya bila tidak melakukan arak-arakan “Ogoh-Ogoh”, sebuah karya generasi muda Bali berbentuk patung besar berwujud raksasa kejam.

      Ogoh-ogoh sendiri sebenarnya baru muncul sejak tahun 1982 sebagai media kreativitas masyarakat Bali. Sampai sekarang budaya tersebut masih dijalankan oleh masyarakat Bali, bahkan dengan berbarengan diselenggarakan pula lomba ogoh-ogoh. Ukuran ogoh-ogoh terbilang cukup besar, memerlukan proses pengerjaan yang cukup panjang sekitar 1-3 bulan. Untuk mempercepat proses pengerjaan biasanya para anggota STT (Sekaa Truna Truni) akan bergotong royong dalam menyelesaikan ogoh-ogoh tersebut.

     Sayang, Pengrupukan tinggal menghitung jari, tetapi masih banyak Ogoh-Ogoh dari berbagai Banjar belum dapat terselesaikan. "Sebenarnya kalau ogoh-ogoh belum jadi seutuhnya karena kurangnya waktu dan tenaga saja. Karena dari mendesign awal hingga tahap finishing itu kan gak cepet selesainya, jadi bener-bener perlu kerjasama antar pemuda sendiri. Kehadiran juga gak diabsen kalau mau ke banjar, kesadaran sendiri saja. Beberapa ada yang gak datang kadang mungkin karena kesibukannya masing-masing, jadi kembali ke kesadaran ikut membantu saja," ujar Chandra Danuarta selaku salah satu anggota STT di Banjar Paang Kaja Penatih.

      Menurut Kevin Ananta, yang juga salah satu anggota STT di Banjar Paang Kaja Penatih, pengerjaan ogoh-ogoh yang terjadi di banjarnya mengalami keterlambatan karena “banyak anggota STT yang kesadarannya kurang, punya kegiatan masing masing.” Meskipun demikian hal tersebut bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap merayakan pengrupukan dengan dimeriahkan ogoh-ogoh, semangat mereka untuk menyelesaikan karya mereka sangatlah tinggi.

     "Harus selesai dan harus berpartisipasi dalam hari pengrupukan, karena bagaimanapun juga ogoh-ogoh merupakan karya seni khas Bali, di luar negri saja banyak yang merayakannya, bagaimana kabar yang di negeri sendiri? harus tetap dilestarikan, jangan hanya gara-gara sibuk malah lupa dengan budaya sendiri," ujar IB Gede Putra Gangga. (non/msk)

 

Pikirkan Lagi!

sebuah feature radio yang menuturkan persiapan Banjar di Denpasar dalam pembuatan ogoh-ogoh menyambut hari raya Nyepi Kontributor : Maylina Triastuti
 

 

Ogoh-Ogoh Milik Kita


Pengunjung Lainnya

We have 101 guests and no members online