• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

Anak jurusan MIPA memang selalu diidentikan dengan prestasi akademiknya, tapi siapa sangka cowok berkulit hitam ini punya bakat tersendiri dibidang seni. "Jadilah sang juara pada setiap bidang yang kamu tekuni", begitulah kata cowok penggemar Masakan Bali ini.

        I Made Dhima Franshima begitulah nama anak dari 2 bersaudara ini. Dhima kini duduk di kelas 11 MIPA 2 Trisma. Dhima mengaku tak suka pelajaran minat MIPA, dirinya lebih cenderung menyukai minat IPS seperti PKn dan sejarah. "Awalnya pilih MIPA karena kata kakakku gampang waktu Snmptnnya, dan kata orang anak MIPA itu keren", jawab Dhima sembari tertawa kecil. Walaupun tak pintar dalam pelajaran tapi sosoknya pintar dalam meluluhkan hati wanita melalui suaranya yang merdu. Dhima menekuni bidang tarik suara sejak kecil, telah banyak piala dan piagam yang ia peroleh. Tak hanya itu bidang kesenian Bali ia tekuni juga khususnya tari dan gambelan bali.

        Remaja usia 16 tahun ini sudah mulai belajar menyanyi sejak kelas 3 SD. "Awal ikut nyanyi karena dipaksa mama ikut les, kebetulan karena kakak juga penyanyi jadi disuruh ikut les juga, padahal gak suka dengerin lagu apalagi hobi nyanyi", celetuk cowok berkulit hitam ini. Ajakan ibunda diturutinya, Dhima mengaku dulu ketika latihan selalu ngambek jadi tak ada pilihan ibunda menyelipkan hadiah kecil agar anaknya mau berlatih. Dhima kecil merasa suaranya tak sebagus penyanyi lain, tak merdu justru suara berat yang dimiliki membuatnya tak dapat menjangkau nada tinggi. "Waktu masih awal latihan suaraku gak banget, gak mau merdu jadi susah ngambil nada tinggi".Belum ada perkembangan selama 2 tahun anak ini les bernyanyi, kesadaran untuk berlatih belum ada masih perlu sogokan kecil sang bunda untuk tetap latihan.

       Kemudian dirinya dipilih mewakili sekolah dalam Porseni "Ikut Porseni bukan karena pintar nyanyi si cuman karena ditauin ikut les nyanyi, jadi ikutlah aku porseni waktu itu", tutur personil Band Ganesha ini. Porseni adalah ajang pertama yang diikuti Dhima kecil. "Pertama kali lomba waktu SD di Porseni dan kalah, rasanya itu malu banget tapi karena rasa malulah akhirnya aku jadi lebih semangat latihan". Kekalahan yang pertama tak lantas membuatnya berhenti malah siswa Saraswati 5 inilebih terpacu dan semangat berlatih disetiap waktu. Akhirnya proses tak menghianati hasilnya, harapan II berhasil diraih Dhima kecil kemenangan yang pertama untuknya.

      Sejak dirinya direkrut Kabupaten Gianyar untuk menyanyi di PKB, mulailah sosok Dhima dikenal. Kemudian beberapa event mulai ia ikuti seperti Lomba Solo Pop PKB, Juara 1 PSR saat SMP, Juara 1 lomba dikabupaten Gianyar, Juara 2 Lagu pop se-Bali yang diadakan UNUD, Juara 3 PSR tahun ini. "Yang paling mengesankan itu lomba di UNUD, karena kategori umum jadi semua kalangan bisa ikut dan aku baru kelas 1 SMA sedangkan peserta lain udah ada yang nikah dan tentunya pasti lebi berpengalaman", celetuk alumni SMPN 10 Denpasar ini ketika ditanya lomba yang paling berkesan baginya.

        Pengalaman yang pahit pun juga sempat ia rasakan "Waktu itu kalau gak salah pernah lomba disalah satu stasiun TV. Saat itu aku udah berdiri di panggung, karena namaku disebut MC dapat juara dan lolos ke babak berikutnya kemudian ada juri yang nyeletuk dan memprotes. Apalagi waktu itu sedang LIVE, malunya itu ternyata ada kesalahan teknis dalam penyebutan nama pemenang yaitu aku. Dan akhirnya aku dipersilahkan kembali duduk, betapa malunya saat itu", curhat siswa Trisma ini. Disetiap kesuksesan pasti selalu ada kegagalan dan kepahitan dibelakangnya seperti yang dirasakan Dhima Franshima ini.

       Kesuksesan cowok penyuka warna hitam ini memang tak luput dari dukungan ibunda tercinta, nasehat ibunda selalu diingatnya. "Pokoknya jangan kecewa punya lawan yang lebih bagus, karena kamu bisa bersaing sama orang-orang hebat pelajarin cara nyanyinya, begitu nasehat mama yang palingku ingat". Seperti yang diceritakan cowok yang hobi futsal ini, dirinya dulu tak menyukai suaranya yang berat. Tapi Dhima kecil tak menyerah begitu saja, buktinya sekarang suara berat menjadi ciri khas tersendiri bagi anak ini. Seperti sebuah keajaiban baginya "Karena aku suka keajaiban, seperti hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Karena itu aku suka warna hitam, bagiku hitam itu magic dan magic adalah keajaiban", tutur Dhima. (non/git/msk)

Pengunjung Lainnya

We have 90 guests and no members online