Tantangan yang cukup ekstrem tatkala keadaan selalu terdesak oleh waktu. Peristiwa senada dengan pernyataan itu kian dialami oleh sosok I Wayan Anantha Surya Kusuma Kepakisan hampir setiap ajang lomba yang dia ikuti.
Mengalami keadaan jatuh bangun hingga sekian kali, tidak menyurutkan langkah Surya ---sapaan akrabnya--- untuk menuai prestasi. Siswa kelas XI IPS di SMA N 3 Denpasar ini telah menyumbangkan banyak prestasi akademik hingga tingkat nasional. Salah satunya yaitu juara I lomba karya tulis tingkat Bali di jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Undiksha Singaraja. “Ini merupakan pengalaman lomba yang paling berkesan bagi saya, karena mulai dari persiapan menyusun hingga mencapai final butuh tenaga yang ekstra karena mengerjakannya hingga menghabiskan waktu dua bulan”, jelas cowok penyuka warna biru ini.
LKTI yang diperlombakan waktu itu tentang Pengaplikasian LEPA (Low Energy Precission Apllication) yang dinilai oleh juri waktu itu merupakan sebuah ide yang brilliant. Persiapan yang bisa dikatakan begitu mantap namun tak urung juga harus menghadapi resistor, tak menyurutkan langkah untuk melanjutkannya. “Saya bersama kelompok waktu itu mengalami kesulitan dalam mencari referensi, cari di perpustakaan tidak ada, ke toko buku juga tidak ada, hingga akhirnya kami menerjemahkan refrerensi dari internet yang berbahasa Inggris semua”, kenang Surya dengan penekanan kata yang cukup tegas. Sebagai seorang pengurus KIR yang menjabat sebagai Waka I, merupakan sebuah kewajiban ketika harus memperjuangkan nama baik ekstrakulikuler maupun Trisma itu sendiri. “Lomba karya tulis ini merupakan sebuah awal revolusi KIR 3 Trisma setelah beberapa waktu terakhir belum memperlihatkan prestasinya”, imbuhnya.
Dewi Fortuna telah bersemayam pada tubuh seorang ketua kelas yang berperawakan tinggi, kulit putih, rambut lurus dengan tampang yang cukup ‘galak’ ketika orang lain belum mengetahui sifatnya aslinya yang suka jail. Secara beruntun LKTI Jurusan Bimbingan Konseling di Univ. Undiksha juga disabetnya dengan juara I, disusul Juara I LKTI Fak. Sejarah di Universitas yang sama. ”Lucunya maktu itu, pengumumannya kan dimulai dari peringkat kesepuluh, nah sampai peringkat ketiga saat itu belum juga disebut nama kita, terus tiba-tiba saja seorang tim saya celoteh bilang kalau juara, nanti jogging di lapangan Renon, eh ternyata beneran ”, ungkapnya sambil menahan tawa.
Tidak seperti kebanyakan siswa yang dimana sukses dalam satu bidang, namun bidang yang lain terabaikan. Waktu yang mepet sering menjadi kendala ketika seorang kakak yang memiliki hobi membaca dan menulis ini dalam mempersiapkan lomba. “Seperti kemarin, padahal saya harus presentasi LKTI Sejarah di Undiksha, tapi saya harus mengikuti olimpiade ekonomi di Univ. Airlangga, jadi konsentrasi terbelah, gak pusing tuh?”, sahut Surya dengan nada sumringah. Ya, meskipun masternya LKTI Trisma ini tidak ikut presentasi, namun timnya berhasil memberikan piala bergilir bagi Trisma dengan menoreh juara I. Namun, bertepatan pada hari itu juga, Surya yang berada di pulau seberang, memperoleh juara II pada olimpiade Ekonomi di Univ. Airlangga Surabaya. “Ini yang paling seru, ketika saya beserta rekan saya dapat menyisihkan 379 tim se-Jawa dan Bali,” cetusnya dengan lafal yang cukup jelas.
Tak bisa dipungkiri, kesuksesan buah hati dari pasangan I Wayan Merthayasa dan Putu Mirahwati ini mendapat pujian dari berbagai pihak. Itu kerap dijumpai ketika Surya bersama seorang rekannya berhasil menjadi Juara III dalam olimpiade Ekonomi yang diselenggarakan oleh Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta. “Serunya perlombaan waktu itu, karena waktu-waktunya mepet banget buat menjalani beberapa sesi”, lanjut ABG yang suka dengan lagu versi old songs ini. Bagi dia lomba setingkat olimpiade itu perlu persiapan yang cukup matang, disamping dibina oleh dosen dan guru ekonomi di sekolah, tapi tetap diperlukan kesadaran dari diri sendiri untuk belajar. Merupakan perjuangan keras ketika materi ekonomi SMA kelas X,XI,dab XII ditambah pula materi tingkat S1 harus habis dilahap ketika kelas 2 SMA. Siapa yang mengetahui, dulu cowok yang suka nasi goreng ini pernah menjadi satu-satunya siswa kelas sepuluh yang ikut lomba debate APBN di Departemen Keuangan RI hingga masuk nominasi 10 besar bersama kakak kelas waktu itu.
Kerja keras yang membuahkan hasil yang manis memang tidak diperoleh begitu mudah. Kesuksesan ini dicapai ketika kita dapat belajar mengoreksi kesalahan yang dialami waktu dulu. “Pertama kali saya lomba LKTI itu waktu kelas sepuluh, saat itu lomba di Fak. Ekonomi, tapi masuk finalis saja ngaak, kurang pengalaman mungkin ya”, ungkap remaja kelahiran 27 Mei 1993 ini malu. Setelah itu, Surya dengan rekannya mencicipi bagaimana kali pertama menjadi finalis LKTI yang kebetulan waktu itu lomba di jurusan kimia, fak. FMIPA Unud.
Selain itu, dengan tim yang selalu kompak, Surya, dkk. berhasil menjadi finalis di Disdikpora Denpasar, finalis LKTI di Warmadewa, finalis LKTI di Ilmu Komputer Unud, dan juga sebagai finalis LKTI di fak. Teknik Unud. “Nah, dari pengalaman itu saya jadikan pembelajaran untuk mencapai kesuksesan mengharumkan nama Trisma dan KIR 3 Trisma”, tekannya.
Diringi tekad serta kerja keras dengan moto ‘slow but sure’ ini, seakan dapat menapaki jejak seorang calon ilmuan ekonom untuk berkarya. Gerbang untuk meraih cita-cita kian terbuka lebar ketika wawasan serta pengalaman dalam dunia pendidikan telah dinikmati sejak dini. “Saya berharap semoga Trisma dapat berjaya selalu, baik itu berprestasi dalam bidang akademis maupun nonakademis”, tutupnya. (dj)
Last Updated (Monday, 19 April 2010 08:16)