• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

“Sekolah harusnya bisa jadi tempat yang menyenangkan buat siswa bukannya malah membebani dan bikin takut,” celetuk Putri Pradievy Syanthi (17), Selasa (29/11).

 

       Isu pemerintah mengenai ditiadakannya Ujian Nasional (UN) menuai banyak komentar dari guru maupun siswa di SMAN 3 Denpasar. “Jujur aja sih seneng kalau beneran di hapus, jadi gak ada beban mesti belajar buat UN,” jelas Putri, yang merupakan seorang siswi kelas 12 SMAN 3 Denpasar.

      Keputusan pemerintah inipun didukung oleh pihak guru, salah satunya I Kadek Januwiradi (31), seorang guru mata pelajaran PPKN di SMAN 3 Denpasar, “Saya sih setuju UN dihapus, mengingat tahun kemarin UN sama sekali tidak menentukan kelulusan, dan berbanding terbalik dengan biayanya yang sangat besar,” tuturnya.

       Walaupun isu keputusan yang meyebar di media sosial ini bersifat mendadak, namun hal ini tidak membuat siswa maupun guru merasa dirugikan dengan segala sesuatu yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi UN, seperti bimbel yang diikuti diluar sekolah. “Kalau aku sih les fokus untuk nyari perguruan tinggi negeri, bukan buat un aja,” ucap Putri.

    Dengan ditiadakannya UN, juga memberikan satu nilai plus, untuk benar - benar ‘menjebolkan’ SDM yang berkualitas. “Sekolah lebih tau mana siswa yang layak untuk diluluskan, bisa dilihat dari proses pembelajaran dan ujian akhir sekolah, jadi tidak hanya berdasarkan UN” ungkap Janu.

     Kegembiraan ini tidak hanya dirasakan oleh guru maupun siswa kelas 12 yang akan menghadapi UN, namun menjalar juga ke adik-adik kelasnya. “UN cuma bikin siswanya beban, belum lagi UN jadi ajang contek-mencontek, jadi gak mencerminkan kemampuan siswanya sendiri,” ujar Ngurah Wahyudi Arta (16), siswa kelas 11 SMAN 3 Denpasar.

     Namun, di balik dukungan yang diberikan atas kebijakan pemerintah tersebut, tersimpan kegelisahan tersendiri bagi siswa maupun siswinya. Seperti yang diungkapkan oleh Putri, “Kalau gak ada UN katanya bakalan ada ujian dari masing-masing daerah, jadi sama aja bohong, malah lebih sulit,” kata Putri.

      Perubahan yang bertujuan untuk menjadi lebih baik memang bagus, namun untuk mengambil keputusan tersebut diperlukan pertimbangan dan kesiapan yang matang agar apa yang dicita-citakan dapat terwujud. “Harapanku sih supaya kebijakan selanjutnya bisa bikin siswanya cerdas, bukan pinter semata aja. Jangan plin-plan buat sistem, siswa bukan kelinci percobaan,” harap Putri dengan nada tegas. (git)

Pengunjung Lainnya

We have 185 guests and no members online