• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

Kala itu, ribuan ‘kepala’ berbondong memadati jalanan kota metropolitan, Jakarta. Dengan berlandaskan satu tujuan guna memperjuangkan aspirasi kaumnya.

 

     Menurut UU No. 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, unjuk rasa atau demonstrasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum. Dimana dijelaskan pula pada pasal 6 bahwa mengemukakan pendapat di muka umum berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain, menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum, menaati hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum, dan menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

       Berawal damai berakhir dengan gas air mata. Kalimat itulah yang dapat menggambarkan peristiwa demonstrasi 4 November lalu. Kata-kata manis yang menyuarakan demonstrasi ini akan berlangsung damai nyatanya tak terbukti. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum paham akan makna demonstrasi yang sesungguhnya.

       Namun nyatanya di mata masyarakat, 'demo' masih menjadi suatu ajang pelampiasan emosi tatkal pendapatnya tak didengar. Aksi demonstrasi yang tak sesuai inilah yang nantinya akan menjadi bumerang bagi persatuan masyarakat Indonesia. Mengingat aksi-aksi demo seperti itu merupakan media bagi para “pengkhianat” bangsa untuk melancarkan aksi memecah belah negeri ini. Belum lagi, ditambah dengan masuknya pihak-pihak luar yang hendak mengambil keuntungan dikala kondisi bangsa yang tak menentu. Jika hal ini tak segera kita tangani, maka apa jadinya bangsa ini? Perpecahan dimana-mana, kepentingan individu diutamakan, tak ada lagi kata “bersatu”. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang selalu diagung-agungkan pun tak berarti lagi.

      Oleh karena itu, sebelum mimpi buruk terjadi masih ada waktu untuk berbenah diri. Perkuat kembali pengendalian diri agar tak dikalahkan oleh emosi. Perluas wawasan akan ilmu pengetahuan agar nantinya tidak dibodohi okeh para provokator. Mengubah pola pikir diri dan menjunjung positive thinking, agar tak mudah dibutakan oleh hal-hal negatif.

      Dengan demikian, seluruh lapisan mampu bersatu guna mewujudkan tujuan bersama dan memperkuat pertahanan masyarakat. Sehingga faktor-faktor luar yang hendak ‘merusak’ bangsa ini akan sulit melancarkan aksinya. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang memiliki aspirasinya masing-masing. Namun, filtasi tetap diperlukan, bukan? (prh)

Pengunjung Lainnya

We have 26 guests and no members online