• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

"Jangan diadain dulu dong. Kita disini aja masih susah cari kerja," ungkap Kadek Astawa dengan senyum kecut, kecemasan (26/10).

       Kata-kata itu terlontar dari pria asal Nusa Penida ini, yang awalnya hanya melongo ketika dijelaskan tentang MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Persaingan ketat, membuatnya harus menyeberang ke pulau sebelah untuk mencari kerja. Seiring dengan adanya MEA, saingan jadu makin banyak. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sudah ada peningkatan jumlah pekerja yang datang lari luar negeri. Dari 14.550 orang di akhir tahun 2015, menjadi 25.238 orang di Januari 2016 (edukasi.kompas.com, 2016). Dengan itu, kualitas sumber daya manusia harus terus digenjot. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah penguasaan bahasa.

      "Perusahaan-perusahaan besar dan ternama tentu akan mencari orang yang dapat menguasai Bahasa Inggris. Jadi, ya belajar Bahasa Inggris itu sangat penting untuk menghadapi MEA ini," ungkap I Gusti Ayu Intan Candradewi, siswa kelas XI MIPA 6 SMA Negeri 3 Denpasar. Hal serupa juga diungkapkan oleh guru Bahasa Inggris SMA Negeri 3 Denpasar, Ida Ayu Khrisna Wiweka. "Bukan hanya untuk MEA. Lihat saja di sekitar kita nantinya. Belajar Bahasa Inggris itu penting. Karena itu merupakan international language."

      Meskipun begitu, kedua pendapat tersebut disayangkan oleh Abiyyu Didar Haq, siswa dari kelas yang sama dengan Intan. "Bahasa Inggris jadi lebih di agung-agungkan daripada bahasa daerah. Biasanya anggapan anak muda itu, buat apa belajar bahasa daerah kalau gabisa dipakek nyari kerja?" Ia takutkan, bahasa daerah sendiri lama lama akan tergerus dengan masuknya berbagai bahasa asing ke Indonesia seiringan dengan MEA. Belum lagi, "Bahasa Indonesia saja sekarang penggunaannya belum benar sepenuhnya. Masih bercampur dengan bahasa-bahasa media sosial," terang I Wayan Suana, selaku guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 3 Denpasar.

       Meskipun begitu, Suana menepis kekhawatiran Abi. "Sekarang semua pegawai dari luar akan di tes UKBI, yaitu Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia. Jadi nggak perlu khawatir, Bahasa Indonesia akan tergerus oleh Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya," jelas Suana. Ia menambahkan, sekarang pun sudah banyak kursus Bahasa Indonesia di negara luar. Baik di negara ASEAN, bahkan sampai ke Korea dan Australia. Hal tersebut selaras dengan pernyataan Astawa di akhir wawancara, "Nggak usah khawatir soal bahasa. Itu dapat dipelajari sambil jalan. Yang penting, kualitas kerja." (nan)

Pengunjung Lainnya

We have 83 guests and no members online