• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

SDM dan industri kreatif merupakan 2 hal yang tak terpisahkan. Jiwa penggerak industri kreatif adalah kreatifitas dan inovasi dari SDM, sehingga ujung tombak dari industri kreatif adalah kualitas dari SDM.

 

       Sebagai negara yang besar, Indonesia memiliki SDM yang melimpah dengan potensinya masing-masing. Peluang ini tentunya memerlukan ruang untuk berkembang, ruang dimana segala kreatifitas, inovasi, ide, dan gagasan dapat terealisasikan menjadi suatu usaha finansial.

       Dalam rangka menyambut gelombang keempat tahap perkembangan perekonomian ini pemerintah dengan paket kebijakan ekonomi Jokowi-JK telah memberikan ruang dan kesempatan untuk berkembangnya industri kreatif. Juga, dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif Indonesia telah memberikan angin segar bagi SDM dengan segala gagasan industri kreatifnya karena telah ternaungi hukum.

        Namun, tidak segala ekspetasi dapat menjadi realita dengan mudah. Walau pemerintah telah cukup memberikan ruang bagi SDM untuk mengembangkan industri kreatif, nyatanya masih terdapat kendala yang menghambat laju pertumbuhan industri kreatif. Kendala itu sendiri, justru dari minat dan mental SDM yang rendah untuk menjadi pelaku industri kreatif. Menurut I Gusti Ngurah Oka Praditha selaku penata di balai diklat Denpasar, kontribusi industri kreatif di Indonesia bagi perekonomian baru sebesar 7% ditinjau dari PDB, sedangkan target yang ditentukan adalah 12%, yang berarti jumlah SDM yang berkecimpung dalam industri kreatif masih minim jika ditinjau dari segi target yang ditetapkan.

       Bukan tanpa sebab, minat dan mental SDM yang rendah terhadap industri kreatif merupakan suatu permasalahan yang berkesinambungan, yaitu mindset atau pola pikir SDM sendiri yang salah dalam memandang industri kreatif. Sedari awal, sistem pendidikan di Indonesia hanya mengarahkan generasi bangsa untuk belajar dan belajar tanpa berpikir bagaimana untuk berwirausaha, layaknya kacamata kuda. Mindset SDM masih belum mampu untuk berpikir bak seorang wirausaha, sedangkan yang dibutuhkan dari industri kreatif itu sendiri adalah bagaimana individu dapat mengembangkan inovasi, kreatifitas, serta berjiwa wirausaha, yang artinya sangat bertentangan dari pola pikir SDMselamaini. Sehingga terjadi insinergisitas antara tujuan industri kreatif dengan mindset masyarakat. Jadi tidak salah, jika gagasan industri kreatif ini sempat tertidur dan tersendat.

      Berangkat dari kenyataan tersebut, yang harus kita ubah untuk menyukseskan industri kreatif adalah menanamkan pola pikir dan jiwa kewirausahaan dengan perbaikan kurikulum dan penggiatan mediasi serta kegiatan lainnya yang bertujuan untuk memacu masyarakat menuju industri kreatif. Sehingga jiwa wirausaha untuk menjadi pemeran dalam industri kreatif akan tumbuh dalam diri SDM. Pasang kuda-kuda, bukan kacamata kuda. (bpe)

Pengunjung Lainnya

We have 186 guests and no members online