Makna kasih sayang tak sedangkal memberikan hadiah kepada orang yang kita sayangi. Tetapi lebih dari itu, kasih sayang adalah bagaimana kita mampu membahagiakan orang yang kita sayangi.
Made Jaba, sosok terlupakan di sudut hiruk pikuk Desa Serangan. Pria tua dengan rambut penuh uban ini, mengekspresikan kasih sayangnya kepada keluarga dengan membanting tulang siang dan malam. Mangkal di warung kecil depan Pura Dalem Sakenan, dengan beratapkan terpal dan pondasinya adalah bambu, “Di sinilah ladang rejeki saya”, akunya.
“Sebenarnya, satu tahun yang lalu saya melaut, tapi waktu itu saya sakit tifus dan sempat sepuluh hari di UGD Sanglah, akhirnya kapal yang saya pakai melaut saya jual untuk biaya rumah sakit, dan saya memilih untuk berhenti melaut dan berjualan kecil-kecilan seperti ini”, terang Made Jaba yang sempat mengenyam pendidikan hingga tingkat SD.
Cobaan pria kelahiran Serangan, 53 tahun silam ini bahkan lebih memilukan dari sekedar ketidakmampuannya untuk melaut. Sejak enam bulan yang lalu, istrinya-Made Candri- sakit kencing manis. Baginya semua ini cobaan yang harus dijalaninya. Pikirannya kini hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan ia dan istrinya. Tak penting apakah tubuhnya yang sudah renta dimakan usia, yang terpenting adalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Penghasilannya yang pas-pasan tidak membuatnya putus asa. “Penghasilan saya tidak menentu, bahkan terkadang tidak mencukupi kebutuhan untuk biaya makan”, curhat Made Jaba. Penghasilannya setiap hari sekitar Rp 10.000,00. “Tetapi jika tidak beruntung dalam suatu hari, Tak sepeser pun penghasilan yang saya dapat,” tutur Jaba tegar. Lebih lanjut, menurut Jaba, penghasilan melaut lebih besar daripada berdagang. “Tapi apa boleh buat, Sebenarnya, saya ingin melaut lagi, tapi gak ada modal”, keluh Jaba lirih karena tak ada pilihan lagi. (alit)
Last Updated (Monday, 19 April 2010 08:21)