• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

 “Heheh,” kekeh Arrian Setiagama. “Itu permasalahan karena belum berani mencoba,” tambahnya sembari menunjukkan senyum asimetris (15/10).

        Ucapan yang terlontar dari pemilik Barjaz Tea itu bukan tanpa sebab musabab. Telah lama bergelut dalam dunia kewirausahaan, dirinya menolak pernyataan tentang modal menjadi masalah utama dalam industri kreatif. “Lakukan saja dulu, masalah modal itu gak perlu ambil pusing, ada banyak cara untuk mendapat modal,” ujarnya. Sanggahan itu mungkin dapat dilontarkan untuk Cok Istri Mirah Pradnya, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Sebab, bertolak belakang dengan Arrian, Cok Istri mengaku modal menjadi permasalahan yang membuat tersendatnya realisasi industri kreatif. “Modal itu jadi masalah, apalagi perekonomian kita lagi dalam kondisi yang kurang baik,” ungkapnya. Namun tetap saja, hal ini dibantah oleh Arrian, “Dia takut, makanya susah memulai, padahal kalau dilakukan, banyak peluangnya,” tandasnya.

       Antara Arrian dan Cok Istri, memang beda tanggapan ketika dihadapkan pada tantangan. “Karena karakter orang berbeda, ada yang takut, ada yang memang berani untuk memulai” ujar Sayu Ketut Sutrisna Dewi, selaku penggerak program entrepreneur goes to banjar. Sayu yang merupakan penggerak minat indusri pada masyarakat mengaku fasih pada hal tersebut. “Ketika saya mengadakan pelatihan, banyak yang mengaku takut, banyak yang takut ntar usahanya gak sukses,” ujarnya. “Padahal, peluang industri kreatif, itu sangat banyak sekali dan berjangka panjang, ketika negara hanya memanfaatkan SDA, kita bisa manfaatkan SDM, jadi tanpa dengan kreatifitas pun kita bisa menghasilkan,” tutur I Gusti Ngurah Oka Praditha, selaku Penata Balai Diklat Industri Denpasar. Bahkan menurut data kementrian perindustrian, Oka mengungkapkan ekonomi kreatif mampu memberikan kontribusinya dalam perekonomian Indonesia sebanyak 7% hingga saat ini. “Kita menargetkan akan mencapai 12%,” tambahnya.

       “Memang itu angka yang kecil, tapi kita ini baru pemanasan, industri kreatif itu terlambat masuk ke Indonesia,” ujar Arrian menanggapi. Selain itu, SDM di Indonesia dinilai memiliki peran yang paling penting untuk pertumbuhan industri kreatif. “Kalau udah takut duluan, gimana caranya kita untuk memulai? Maka dari itu, kita harus ubah mindset kita,” ujar Sayu. Mengenai dukungan pemerintah, “Pemerintah itu sudah masif, sudah ada pelajaran kewirausahaan yang diterapkan dalam kurikulum,” ucap Oka. “Tunggu apa? Intinya itu, ya ini,” tutupnya sembari menunjuk kepala.

        Penggerak industri kreatif mesti bergerak aktif. Menggempur mental untuk masa depan yang lebih baik. SDM kita dalam menghadapi industri kreatif, mungkin seperti kepompong dalam belitan gulma. Kuncinya ada dari dalam, entah mau mengubah dirinya menjadi kupu-kupu terindah, atau diam sembari menunggu mati. (gsw)

Pengunjung Lainnya

We have 100 guests and no members online