• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

Image and video hosting by TinyPic

Aku yang dulu dielukan. Diperlukan oleh kalian wahai pelajar. Tapi kini, aku seakan dibuang dan hilang dari peradaban...

        Menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan internet mungkin tak asing lagi di kalangan pelajar. Teknologi kini sudah canggih, siswa terlena dan akhirnya berpaling. Dari yang dulunya mengerjakan PR mengandalkan pena dan kertas, kini sudah berpaling untuk menggunakan laptop. Notabene, laptop membuat pekerjaan menjadi rapi dan praktis dengan memanfaatkan layanan copy paste.

         Dilansir dari tekno.kompas.com, pengguna internet di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia mencapai 30 juta. Sedamgkan di gobekasi.pojoksatu.id ada fakta mengejutkan bahwa angka minat baca Indonesia hanya sebesar 0,001% yang berarti dalam seribu orang, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca. Kesenjangan antara tingkat penggunaan internet dan minimnya minat baca Indonesia menjadi bukti bahwa internet jauh lebih ‘digandrungi’ daripada membaca buku.

      Wajarkah angka ini terjadi? Keduanya memiliki alasan kuat untuk kita pilih. Internet memudahkan mencari jawaban dari tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Seakan mengerti dan tahu segala pertanyaan yang kita ajukan. Kelemahannya, semua orang bisa dengan mudah mengupload materi sehingga kita tak pernah tahu seberapa benar jawaban yang kita copy paste untuk tugas sekolah. Menggunakan buku yang orisinil serta dapat dipercaya sumbernya lebih meyakinkan. Sayangnya, rendahnya budaya literasi membaca membuat siswa ogah membaca banyak demi sebuah jawaban.

     Akar dari problematika ini adalah kecanggihan internet telah mengganti peranan buku. Buku dinilai hanya menyajikan informasi terbatas di topik itu saja. Tidak ada kajian lain untuk 'menenangkan' gejolak ingin tahu remaja. Tapi, tekankan pada satu slogan yang terkenal bahwa "Buku adalah jendela dunia" yang berarti nilai buku ssebagai sumber ilmu masih sangat berharga dibandingkan internet.

       Diperlukan upaya serius untuk menangani masalah ini dari berbagai pihak. Siswa harus menguatkan iman untuk mengontrol membaca di internet daripada di buku. Guru sepatutnya lebih keras dalam membudayakan kegiatan literasi di kegiatan mengajar. Dan pemerintah harus putar otak, mencari cara agar buku tak semakin ditinggalkan. Ingatlah di jaman penjajahan, dimana rakyat Indonesia bahkan tak bisa menyentuh buku dan pendidikan. Kita sudah merdeka, ada baiknya kebebasan membaca buku ditingkatkan. (msk/smy)

Pengunjung Lainnya

We have 132 guests and no members online