• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

Dirinya sempat tersentak ketika disambar oleh puluhan mesin komunikasi itu. Tetapi, begitu disinggung soal “teknologi”, raut wajahnya menegas. Seperti telah siap akan diserbu berjibun pertanyaan.

       Telah lama berkecimpung dalam bidang teknologi, membuat cowok berambut keriting itu menanggapi positif perkembangan teknologi khususnya pada bidang pendidikan. I Gede Ananta Prasetya Putra (19), seorang mahasiswa UKM Robotika menganggap perkembangan itu memang menguntungkan. “Sekarang kita sudah dapat belajar otodidak, internet, video pembelajaran, dan lainnya sangat cepat berkembang.” paparnya ketika diwawancarai di Gedung Widya Padma PNB, Sabtu (8/10).

      Sejalan dengan pendapat Ananta, I Putu Sugi Suartanaya (19), mahasiswa UKM Komputer PNB, menganggap perkembangan teknologi di bidang pendidikan memang memudahkan dirinya sebagai seorang mahasiswa. “Contohnya Edmodo (salah satu jenis aplikasi pembelajaran – red) yang semakin banyak, jadi sistem pembelajaran lebih mudah dan cepat dilakukan. Jadi jadwal lebih fleksibel, tidak tergantung dengan kehadiran dosen lagi. Kalau dosen gak masuk, tinggal buka aplikasinya aja untuk belajar.” Wajar saja, kemanjaan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi memang menyenangkan. Segalanya jadi praktis, yang dulu harus memeras otak untuk belajar, sekarang cukup dengan ‘klik’, semuanya dapat terakses. Begitukah?

       Ni Putu Sri Utami Dewi (19) justru berpendapat lain. Sekretaris Redaksi Mandiri UKM Jurnalistik PNB itu justru mengalami situasi, dimana ekspektasi berjalan 180 derajat berbeda dengan realitasnya. “Jadi di kampusku itu ada e-learning (pembelajaran basis teknologi – red). Sistemnya sih bagus, tapi penggunaannya masih awam. Ada miskomunikasi gitu antara dosen dan mahasiswa”, ujarnya mantap. Bahkan, dana yang aslinya digelontorkan bagi pengadaan buku, kini telah berubah haluan untuk membiayai fasilitas penunjang teknologi tersebut. Sehingga ketidakselarasan antara teknologi yang disosialisasikan kampus dengan paradigma dosen itu seringkali membuat kaum mahasiswa jadi tak tentu arah.

         Penerapan yang tidak jelas, membuat Utami sedikit janggal. “Iya, uang yang kita bayar untuk pendidikan. Cuma ujung-ujungnya, tidak selaras dengan persepsi dosen yang mayoritas masih pakai buku teks,” ungkapnya. Sehingga konsep ‘tepat guna’ tidak berjalan pada aplikasi kemajuan teknologi untuk dunia pendidikan nyata terjadi, sesuai dengan Permendikbud No. 65/2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah Ayat 13 yang menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.

    Lebih jauh, terbukanya celah memanfaatkan teknologi di bidang pendidikan memungkinkan terjadinya penyalahgunaan. “Contohnya, waktu ujian, karena buku memang sudah ada di handphone, jadi kita tinggal lihat aja. Kita jadi terbiasa berpikir instan”, aku Utami.

        Itu baru dalam skala kecil, lebih besarnya lagi, bukan tidak mungkin penyalahgunaan teknologi khususnya pada kemudahan siswa mencari materi pada internet, justru mendorong tumbuhnya bibit-bibit plagiator di tengah para siswa. “Nah plagiator itu timbul karena siswa cenderung malas, lebih mendahulukan jalan yang instan.” Dimana menjamurnya plagiator tak dapat dipungkiri lagi akibat berkembangnya kemajuan teknologi ini. “Plagiator itu sangat tidak menginspirasi, karena apabila kita stuck pada perilaku itu kita tidak akan berkembang,” timpal Sugi.

      Menanggapi soal dampak negatif teknologi, Ananta hanya menyikapi santai. “Semua hal pasti ada positif dan negatifnya, sekarang tergantung peran serta orang tua dan sekolah untuk turut mengawasi,” katanya. Utami juga mengaku bahwa sebenarnya, titik kunci dari pengaplikasian teknologi di bidang pendidikan adalah eksekutornya. “Disini kita bukan menyalahkan teknologi karena teknologi itu memang sudah memanjakan dan mempermudah kita dalam segala hal. Sekarang tinggal kembali aja ke kita yang pakai, cara pakai teknologi yang benar, cara kita memanfaatkan informasi yang sangat banyak itu.”

      Bagaimanapun cara dan metodenya, penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan tetap beritikad baik. Salah satunya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Sekarang bergantung sang eksekutor itu sendiri. Bukan justru jadi, senjata makan tuan. “Percuma dong sistem bagus, tetapi kitanya sendiri gak paham konsep dari teknologi itu sendiri,” celetuk Utami menutup wawancara. (smy/msk)

Pengunjung Lainnya

We have 402 guests and no members online