• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

Di negeri demokrasi pancasila ini, pers memegang peranan penting di dalam kehidupan masyarakat. Tugas dan idealisme pers menjadi tantangan besar untuk diwujudkan.

 

      Media massa atau yang lebih dikenal dengan pers tentunya sudah tak asing lagi di telinga kita. Menurut UU No. 4 tahun 1999, memaparkan bahwa pers merupakan lembaga penyampaian informasi kepada masyarakat. Pers berperan dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran, selain itu pers juga berperan dalam melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum (Hery Purwanto, 2010).

    Namun seiring berjalannya waktu, peran pers yang sesungguhnya mulai pudar. Pers saat ini dianggap sebagai salah satu media provokasi. Akibatnya timbul fenomena baru, pers partisan organisasi dan partai politik yang menyebabkan keberpihakan jurnalis pada politik dan kepentingan-kepentingan lain.Idealisme pers mulai dipertanyakan (Prasetijo,2014).

    Pers pada masa ini terjebak menjadi alat kepentingan kapitalis sehingga kemudian tidak menampakan jati diri sesungguhnya pers sebagai suara publik. Penyebabnya, soal ‘kantong’ atau tekanan-tekanan dari pemerintah maupun non-elite. Saat ini, media yang memenuhi “permintaan pasar” dan selera publik adalah media yang mampu bertahan. Akibatnya masyarakat pun kebingungan memilih mana informasi yang benar dan yang salah. Kebenaran sudah tak dihiraukan lagi.

    Satu-satunya cara untuk mengembalikan peran pers yang sesungguhnya adalah dengan menegakkan kembali idealisme pers. Idealisme adalah komponen dasar dari pers itu sendiri yang berposisi sebagai penuntun arah profesionalitas kewartawanan (Aji Candra, 2013). Jika kaum jurnalis membanggakan diri sebagai penegak pilar ‘keempat’ demokrasi, hal tersebut tak dapat dilaksanakan jika idealisme sang jurnalis dalam kondisi ‘keropos’. Upaya penciptaan simpati seharusnya melalui berbagai pertimbangan terhadap kondisi, situasi, dan lingkungan. jangan hanya berpatokan pada modal saja. Idealisme pers harus kuat agar tak luntur menjadi sebuah kapitalisme.

     Berpegang teguh pada kode etik pers juga penting dilakukan. Peran kode etik adalah sebagai pedoman insan pers dalam menyampaikan informasi sesuai fakta di lapangan. Apabila seluruh insan pers melakukan hal ini, niscaya nama pers tersebut akan menjadi baik tanpa perlu diiming-imingi ‘amplop panas’. Tegakkan kembali kebenaran dan keadilan. (prh)

Pengunjung Lainnya

We have 114 guests and no members online