• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Isu kapitalisme yang dianut oleh kalangan pers masa kini menjadi sebuah problematika yang yang cukup memprihantinkan. Sikap pers dianggap saling menebar provokasi. Bahkan independensi pers kini perlu dipertanyakan.

 

     Sambil membuat tugasnya, Putu Agus Hariutama (16) mengungkapkan pendapatnya bahwa pers masa kini lebih mencari keuntungan daripada memberikan informasi yang sewajarnya. “Coba deh liat koran atau TV, mana ada yang gak isi iklan. Jadi pers sekarang lebih mementingkan uang daripada fungsinya”, ungkap remaja yang akrab disapa Agus tersebut.

     Dengan santai, Agus memaparkan bahwa ‘kapitalisme’ dalam pers seakan menjadi sebuah ideologi baru yang melekat pada kalangan pers tersebut. “Hanya sedikit yang membela rakyat kecil, kebanyakan hanya mencari keuntungan saja”, aku remaja berkulit sawo matang. Agus menambahkan bahwa kapitalisme ini tercermin dari sistem pemberitaan itu sendiri, bagi kalangan tinggi, dirinya mendapatkan ‘kolom’ yang cukup besar. Sementara bagi kalangan kecil, harus berusaha keras agar mendapat secuil pemberitaan.

    Fina Pradnyani Pratiwi (17) memiliki pendapat yang serupa. Ketika dijumpai di halaman Trisma, dirinya mengungkapkan kapitalisme di dalam kalangan pers seakan menggerakan kaum pers menjadi provokator. Padahal seharusnya pers bersikap independen yang lebih memihak pada kebenaran. “Kapitalisme di dalam pers itu seakan telah mendarah daging, jadi pers itu kayak bernaung di bawah uang”, ujar gadis yang akrab disapa Fina ini dengan menggebu-gebu. Fina mengakui bahwa sebenarnya ‘dalang’ dari timbulnya ideologi kapitalisme dalam pers ini akibat eksploitasi para pemilik media terhadap aspirasi-aspirasi para anak buahnya dalam membuat berita. “Jadi sebenarnya yang ‘sakit’ itu pemilik medianya, pemilik media seenaknya saja. Akhirnya semua antek-anteknya juga sakit”, papar gadis berkacamata tersebut.

       I Made Yana Priyatna (16) juga berpendapat demikian. “Pemilik pers itu menyuruh anak buahnya memberitakan sekenehnya dia aja. Padahal semestinya tidak meninggalkan fungsi pers yaitu menginformasikan dan mengkomunikasikan yang benar”, ujar remaja yang akrab disapa Yana ini. Remaja berkulit putih ini berpendapat bahwa sang pemilik media cenderung ‘pintar’ dalam memprovokasi ‘anak buahnya’, jadi mereka juga ikut pendapat petingginya. Padahal tidak dapat dipungkiri, di dalam lubuk hati masing-masing insan pers, masih memiliki niat dalam membela rakyat kecil.

    “Jadi ujian bagi pekerja media sih, harus kuat iman. Pers kini harus ‘berobat’, jangan mau tergoda oleh kapitalisme”, harap Fina dengan nada merendah. Kalangan pers masa kini harus sadar bahwa perbuatannya akan menimbulkan dampak besar di masa mendatang. Fina mengungkapkan, hal ini dilakukan agar masyarakat juga tidak ikut ‘sakit’. Masyarakat juga harus pintar dan bijak, jangan ‘telan mentah’ informasi. Apakah masyarakat sudi dijadikan ‘boneka’ oleh pemangku kebijakan yang tak bertanggungjawab? (smy)

 

Pengunjung Lainnya

We have 103 guests and no members online