• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Image and video hosting by TinyPic

“Kalau yang udah lama-lama gitu, kita tinggal aja, gak perlu dirunguin. Geregetan banget.” tegas salah seorang wanita paruh baya itu menyiratkan sedikit rasa kesal.

       Begitulah curahan hati dari Ni Kadek Anggreni (31), kala menjalankan tugasnya: mengurusi hal terkait penurunan Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) di SMAN 3 Denpasar. Dalam buku Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2016, Dana BOS ialah dana bantuan operasional sekolah yang diberikan dari pemerintah pusat ke sekolah, untuk membantu menjalankan operasional sekolah, guna meningkatkan mutu pendidikan. Namun, di balik pelaksanaannya di lapangan, tersimpan beberapa permasalahan.

      Ni Luh Putu Suratni (57), Wakasek Sarana dan Prasana SMAN 3 Denpasar mengungkapkan bahwa sebenarnya dana yang diberikan dari pemerintah tergolong cukup banyak. Setiap siswa dianggap tidak mampu, jadi mendapat santunan sebesar Rp. 1.400.000/anak. “Dari pemerintah memang semua anak dapet jatah, tapi disini gak semua murid kita kasih. Cuma yang perlu-perlu aja, dan sisanya dipakai untuk operasional sekolah yang lain,” jelas Suratni, ketika diwawancarai pada Kamis (29/09).

      Sayang, dana BOS yang sejatinya diterima setiap 3 (tiga) bulan sekali, faktanya justru terkadang pemerintah masih suka “molor”, sehingga terjadi keterlambatan turunnya dana bos ke sekolah, otomatis dana yang ‘turun’ ke siswa juga ikut terlambat. “Seharusnya Januari sudah ada, tapi Februari baru turun,” tuturnya.

      Di SMAN 3 Denpasar, dana BOS tidak hanya digunakan untuk membantu siswa miskin. Sebab, “Sedikit banget yang mau nyari. Ada yang malu sama temen-temennya, ada yang anaknya gak mau, tapi orang tuanya mau. Ada juga karena males ngurusin data-data atau surat-surat yang diperlukan,” kata Anggreni. Dari kurang lebih 842 siswa, yang menggunakan dana bos itu hanya seputar 80 orang, sehingga sebagian besar dana masuk ke operasional sekolah.

       Dalam memberikan santunan dana BOS ini, SMAN 3 Denpasar memang memberlakukan seleksi yang cukup ketat. Banyak data-data dan persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satu syaratnya adalah anaktersebut adalah seorang yatim/piatu/yatim piatu atau mempunyai surat keterangan miskin. “Tapi ya biar yang bener-bener perlu aja yang dapet,” jelas Anggreni. Suratni mengungkapkan “Kita sempat kecolongan, jadi 150 juta kita turunkan untuk 150 anak, dan yang dapet ternyata banyak anak DPR, anak pejabat,”. Sebab seleksi saat itu tidak selektif, melainkan masih “abal-abal”. Akibatnya, sekolah memberlakukan seleksi ketat sebagai upaya preventif agar tak ‘kecolongan’ lagi.

     Namun sayang, masalah baru justru tumbuh lagi. Siswa-siswi yang sebenarnya ‘membutuhkan’ jadi mengurungkan niat untuk mencari dana BOS. “Padahal udah wanti-wanti dikasih tahu tanggal segini udah harus dikumpul datanya. Tapi masih aja ada yang telat. Rincian yang udah dibuat kan jadi berubah, nambah lagi jumlah anaknya, beda lagi hitungannya. Yah geregatan,” papar Anggreni.

      Selain itu, dana untuk operasional sekolah juga hanya boleh digunakan untuk beberapa hal saja. Keperluan yang boleh menggunakan dana bos itu ada 14 item, seperti untuk membeli ATK (Alat Tulis Kantor), renovasi ringan, bayar listrik, dan lain sebagainya. “Ini susah juga, hal yang sekolah perlukan tapi malah gak ada di 14 item itu, jadi gak bisa pakai dana bos. Keperluan masing-masing sekolah kan beda-beda,” ucap Anggreni dengan sorot mata yang menyiratkan kekecewaan.

     “Ya namanya bantuan, pasti memabantu, walaupun tidak sepenuhnya. Beban uang komite untuk murid-murid yang tidak mampu jadi lebih ringan,” pungkas I Dewa Gede Alit Dwija (45), seorang guru Bimbingan Konseling SMAN 3 Denpasar. Sekolah memang tidak memberikan langsung dana BOS secara tunai, namun diberikan dalam bentuk kebebasan dalam membayar uang komite setiap bulannya. “Dengan begitukan jadi jelas penggunaanya, kalau dikasih secara tunai, kita gak tau habisnya dipakek apa saja,” kata Alit tersenyum simpul. “Semoga saja nantinya ada perbaharuan mengenai aturan dana bos ini, sehingga bisa digunakan dengan optimal. Siswa senang, guru pun juga ikut senang,” harap Suratni.

      Carut-marut soal ‘turunnya’ dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) memang tiada habisnya. Tetapi pada intinya: tetap membantu, baik bagi siswa ataupun sekolahnya. (git)

Pengunjung Lainnya

We have 97 guests and no members online