• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

“Dek, ayo matiin dulu lampunya! Mama udah banyak bayar tagihan listrik, nih!”

       Ah, begitulah biasanya dampratan kaum ibu kepada anaknya tiap pagi. Maklum, sebelum sekolah anak-anak punya kebiasaan buruk, lupa mematikan lampu! Jangankan lampu, charger handphone, AC, ataupun kipas angin juga masih terhubung dengan stopkontak. Alhasil, si mama sering kali dibuat ‘jantungan’ karena tagihan listrik yang meroket. Belum lagi, biaya-biaya lainnya yang harus ditanggung keluarga.

     Setiap peristiwa yang terjadi pada kelompok terkecil, biasanya justru membesar pada tingkatan yang lebih luas. Percaya? Besarnya konsumsi energi di tingkat keluarga pastinya berbanding lurus dengan membengkaknya konsumsi energi secara nasional. Sebuah artikel dalam bem.feb.ugm.ac.id melansir bahwa konsumsi energi Indonesia meningkat sebesar 764 juta Setara Barel Minyak (SBM) dari tahun 2000 sampai 2011. Akibatnya, negara ini harus mengimpor BBM karena kebutuhan masyarakatnya yang tinggi. Pada tahun 2011 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit akibat impor migas yang tidak terkendali sebesar US$ 0,7 miliar, kemudian semakin parah pada tahun 2012 yaitu sebesar US$ 5,1 miliar. Bahkan pada Januari-Juli 2013 defisit migas sudah mencapai US$ 7,6 miliar.

      Belum lagi, soal biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan energinya. Di bulan Agustus 2016 ini, pada golongan rumah tangan dengan batas daya 1.300 VA saja dikenakan biaya tarif dasar listrik sebesar Rp1410,12/kWh. Mahal sekali, ya! Sementara itu, banyak peralatan-peralatan elektronik yang terhubung pada stopkontak, padahal tidak digunakan sama sekali. Boros sekali!

      Akar dari segala permasalahan ini adalah kurangnya bijaknya masyarakat menggunakan ketersediaan energi yang ada. Kadang kala, orang-orang justru lebih terpaku untuk memanfaatkan energi, tanpa mempertimbangkan efek yang akan timbul apabila menggunakannya sewenang-wenang. Dalih-dalih, soal lupa! Bukannya tidak ingat, tetapi banyak orang justru tidak peka akan dampak dari perilakunya. Kampanye-kampanye hemat energi, hanyalah omong kosong belaka. Sebab, tak ada andil dari masyarakat untuk mewujudkan. Alhasil, jangan ‘jantungan’, apabila di akhir bulan nanti, tagihan listrik rumah justru membengkak. Duh!

     Oleh karena itu, perlu peran aktif dari masyarakat untuk ikut mengurangi konsumsi energi. Dimulai dari tingkat terkecil. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Sehingga, penggunaan energi nantinya akan turun dan memberikan ‘angin segar’ ke segala aspek kehidupan. Jangan hanya diam. Jangan hanya berbunyi nyaring, dan nol akan aksi. (smy)

Pengunjung Lainnya

We have 67 guests and no members online