• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

“Kasi tiang lima ribu aja gek, pake tiang beli sangu...” rintih seorang petani di Renon, kala seorang perempuan melewati sawah miliknya.

      Wayan Mara namanya, seorang petani yang tak lagi perkasa. Seorang perempuan menghampiri sawah Mara, membawa kodak dan hendak memotret sawah miliknya. Mengetahui sawahnya akan dijadikan obyek foto, Mara tentu tak diam saja, ia menagih uang, “untuk beli rokok gek,” ujarnya.

      Sebagai petani yang menggarap sawah di tengah kota, jangan harap luasnya seberapa. Apalagi, semua rekannya satu persatu mulai perlahan meninggalkan sawah garapan untuk mereka yang merebutkan lahan itu dengan harga yang tinggi. “Gimanain mau mempertahankan, pajaknya tinggi, tapi hasil dari panennya rendah sekali,” ungkap Mara.

     Wayan Mara dan petani Renon hanya sepenggal dari banyak cerita petani kota Denpasar. Kisah-kisahnya sama, seolah-olah berkumpul menjadi satu membuat sebuah kumpulan cerpen; nelangsa di sudut kota. Monoton, awalnya diwarisi tanah, namun terjadi gagal panen yang terus menerus, hasil yang tidak maksimal, pajak yang tinggi, lelah untuk menanggung biaya, menjualnya secara cuma kepada yang berminat, alhasil dibangunkan sebuah villa, resort, restoran, atau tempat pariwisata lainnya. Bahkan generasi pun enggan menoleh cerita ini untuk direvisi kembali. Hanya melihat, lalu dibiarkan dengan rasa iba. Tanpa gerak, tanpa perubahan. Melihat pembangunan kota yang kian menggerus tanah warisan dan membiarkan petani kian tersudut di kota.

     Sebuah nelangsa itu bukan karena tanpa sebab musabab. Sejak diresmikannya Hotel Grand Bali Beach serta dibukanya Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali secara tidak langsung sudah ditetapkan menjadi tempat pariwisata. “Jika kita lihat pada tahun 2007, total wisatawan adalah 4.513.498 orang. Terakhir yang saya tahu, kunjungan wisatawan mencapai 10.255.134 orang,” papar dosen pariwisata Universitas Udayana (UNUD), Ketut Arismayanti. Hal ini membuktikan bahwa pariwisata Bali menjadi hal yang menjanjikan. Terbukti dari menjamurnya hotel, villa, dan resort yang merupakan akomodasi pariwisata Bali.

     Dengan banyaknya akomodasi yang dibangun, kian menekan menurunnya lahan konservasi kota serta lahan produktif seperti sawah. Buktinya, menurut Balebengong.net, beberapa tahun belakangan ini areal persawahan di Bali telah beralih fungsi mencapai 1000 ha pertahun. “Penelitian yang saya lakukan mengenai analisis kebutuhan kamar untuk wisatawan di Kota Denpasar, menunjukkan hasil bahwa kamar hotel yang tersedia sudah melebihi dari yang dibutuhkan. Akan tetapi, pada kenyataannya kita bisa lihat juga bersama dengan izin pendirian hotel di Denpasar semakin marak.” ungkap Arismayanti.

      Izin yang kian dipermudahkan, tidak serta merta diiringi dengan analisis dampak lingkungan yang berkepanjangan dan mendalam. “Kalau pun ada pertimbangan tentang dampak untuk lingkungan itu hanya dampak yang terlihat di permukaan bukan dampak besar yang ditimbulkan lebih dalamnya di masa depan.” Tegas I Made Merthayasa, salah satu wiraswasta di Bali.

      Sepertinya, orang-orang harus memperhatikan kembali bagaimana rencana tata ruang daerah provinsi Bali. Sebab, dalam pasal 12 ayat 3 tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya sudah memberikan solusi bahwa membatasi perkembangan kawasan terbangun di luar kawasan perkotaan untuk memperlambat atau membatasi alih fungsi kawasan pertanian. Sehingga dapat mengembangkan ruang terbuka hijau kota dengan luas paling sedikit 30% dari luas kawasan perkotaan sesuai dengan pasal tersebut. Maka dengan begitu, tak perlu lagi ada rintihan dari para petani, bahkan untuk kembali dikisahkan dalam kisah monoton kota; nelangsa di sudut kota. (gsw)

Pengunjung Lainnya

We have 122 guests and no members online