• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

Pandangannya sayu. Badannya besar, menyiratkan bahwa dia malas bergerak. Tapi, ketika mulutnya terbuka dan gelombang bunyi merambat keluar, semua siratan itu sirna.

      Pria ini memiliki suara yang berat dan dalam. Bukan berat seperti suara penyanyi jazz laki-laki. Tapi berat yang ramah, dan akrab di dengar oleh telinga. Dia bukan seorang penyanyi terkenal. Tapi hanya seorang pencinta seni, dan pencinta wanita.

     Namanya I Putu Gede Budhi Danaswara. Seantero sekolah, mengenali sosok ini dengan perawakannya yang besar. Remaja kelahiran Juni, 16 tahun yang lalu ini memang memiliki badan yang besar, kulit putih, dan pipi yang tembem. Membuatnya terlihat imut sekaligus kocak. Namun, bukan hanya wajah imut dan badan besarnya saja yang membuat Budhi, sapaan akrabnya, menjadi terkenal di sekolahnya. Penyuka lawar, sate, betutu, dan segala macam masakan Bali ini, juaranya melantunkan bait-bait mantra Hindu.

   Budhi sudah tertarik dengan sastra agamanya, Hindu, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Diawali dengan keisengannya membongkar lemari buku ayahnya sendiri. Ketika itu, ia belum genap berusia 10 tahun. Pada sebuah lemari buku tua, ia menemukan buku mengenai sejarah dan agama, dan langsung jatuh cinta terhadapnya. Kecintaannya terhadap sastra dan agama Hindu bukan semata-mata sebuah hobi saja. Ketika duduk di bangku SMP, ia tertantang ketika diajak temannya untuk mengikuti lomba sloka di kantor walikota. Kompetisi mewirama pertamanya itu ia persiapkan matang-matang. Meskipun belum beruntung dalam lomba pertamanya itu, rasa cintanya akan sastra agama tetap membuahkan prestasi. Ia raih juara 2 dalam lomba wirama di sastra Jawa Kuno Unud, juara 3 dalam lomba sloka di IHDN, juara 3 olimpiade agama tingkat provinsi, dan banyak lagi.

    Bahkan di bulan Juli lalu, bersama temannya Ryan, Dewa Ayu, dan Dinda, ia berhasil membawa nama SMA Negeri 3 Denpasar menjadi juara umum 2 dalam kemah budaya IX Kota Denpasar.

    Untuk seorang seniman sekaligus orang yang berprestasi, pulang malam sudah pasti menjadi hal yang biasa. Tapi, kata ‘biasa’ itu tidak berlaku bagi Budhi. Ia adalah anak tunggal. Sudah tentu, perhatian orang tua kepada anak semata wayang lebih besar dibandingkan yang lainnya. “Intinya adalah komunikasi. Selalu memberi informasi keberadaan kita kepada orang tua,” jelasnya ketika di wawancarai via Line, Rabu, (27/07).

     Laki-laki asal Denpasar ini memang orang yang santai. Hidup ini tidak boleh tegang. Harus diselipkan dengan jail dan usil, katanya. Ia senang melontarkan lelucon ketika situasi sedang panas-panasnya. “Hidup susah, jangan dibuat susah lagi.” (nan)

Pengunjung Lainnya

We have 63 guests and no members online