• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Sastra

Image and video hosting by TinyPic

Jam pelajaran pertama telah usai. Levi bersama Mikasa segera menuju kantin untuk menyantap makan siangnya.

Dengan santainya ia berjalan dan melewati bangku Raku dan Marika. Raku adalah teman baik Levi dulu, namun sejak kematian sahabat mereka, Eren semua berubah. Mereka bertengkar dan saling menyalahkan atas kematian sahabatnya tersebut. Hingga saat itu mereka tidak pernah saling berbicara lagi. Kematian Eren masih tidak diketahui pasti siapa penyebabnya, namun orang-orang banyak mengatakan bahwa itu kecelakaan. Eren terjatuh dari gedung atas sekolah, ketika sedang bermain dengan teman-temannya yaitu, Levi, Raku, Mikasa, dan Marika.

       Keesokan harinya, Levi dan Mikasa sekolah seperti biasa. Mereka sering datang Pagi untuk membaca buku dan membahas soal-soal. Levi melihat ke kolong bangkunya, kemudian mengambil sesuatu dan membacanya sambil tersenyum. “Mik, apa lo percaya kalau Eren bisa ngirim surat dari sana ?” tanya Levi sembari membuang kertas yang ia dapatkan dari kolong bangku tadi. Mikasa mengambil kertas yang dibuang Levi dan membacanya. Mikasa tertawa “Anak iseng kali nih yang buat, kurang kerjaan banget. Haha” katanya. Tidak ada jawaban dari Levi, ternyata ia sudah mulai membaca buku pelajaran. “Levi, lo gapapa kan ?” Tanya Mikasa. Mikasa terus bertanya sampai memukul meja Levi “Woi Levi jawab dong!”. Levi melihat Mikasa kemudian tersenyum “Udah Mik, lupain aja” jawab Levi dan kembali membaca buku. Mikasa duduk sambil menyimpan kertas tadi. Seseorang terdengar berlari dari luar kelas lalu datang menghampiri meja Levi sambil terengah-engah. “Levi aku dapat surat dari Eren” kata orang itu sambil menyodorkan surat yang dipegangnya kepada Levi. Levi tidak melihat surat itu begitu juga dengan orangnya, ia tetap membaca bukunya. Mikasa mengambil surat tersebut lalu berkata “Eh Raku, surat bocah ginian lo percayain”. Mikasa melemparkan surat tersebut ke wajah Raku. Tak beberapa lama kemudian Marika juga datang memperlihatkan surat yang ia dapatkan. Keadaan sangat hening karena hanya mereka berempat yang ada dikelas tersebut. Seketika pintu kelas tertutup sangat keras. Mereka terkejut disusul dengan jatuhnya vas bunga secara tiba-tiba. Marika berteriak sambil memegang Raku. “Sudah lama ya sejak kejadian itu” kata Levi namun masih dalam posisi membaca buku. Raku dan Marika duduk begitu juga Mikasa. “Kalian masih terlalu bocah dengan mudahnya percaya dengan surat seperti itu. Itu hanyalah perbuatan anak iseng, bahkan bisa jadi itu perbuatan salah satu diantara kita” lanjut Levi. “Tapi apakah anak iseng itu bisa meniru tulisan bahkan kata-kata yang sering diucapkan Eren ?” tanya Raku dengan nada tinggi. Kemudian Levi membaca surat yang diterima Raku. (git)

Bersambung ...

Pengunjung Lainnya

We have 73 guests and no members online