Indonesia terkenal sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai agama dan suku bangsa. Bahkan itulah yang menjadi salah satu kekuatan dari bangsa Indonesia sendiri. Keberagaman budaya dan etniknya tersebar di seluruh wilayah nusantara ini.
Pulau Serangan, merupakan sebuah pulau di Bali yaang memiliki kemajemukan suku, budaya dan agama dalam masyarakatnya. Kemajemukan ini sendiri terlihat dari tradisi antara masyarakat Kampung Bugis dengan masyarakat Hindu Serangan yang memang sudah tinggal di daerah tersebut selama beratus-ratus tahun.
Kemajemukan dan multikulturalitas di Serangan sendiri menunjukkan adanya sikap yang saling menghargai dan menghormati antara kedua suku tersebut. Bahkan bisa dibilang, hubungan antara dua suku ini merupakan hubungan yang paling harmonis di daerah Denpasar.
Jika kemajemukan diantara dua suku ini dikelola dengan baik, maka tentu saja akan menghasilkan dampak yang baik bagi keberlangsungan kehidupan mereka berbangsa dan bernegara. Sebaliknya, jika kemajemukan dan multikulturalitas ini dijadikan awal perselisihan, maka yang akan terjadi hanyalah pertikaian antar suku, seperti peristiwa Sampit, Ambon dan yang lainnya.
Tujuan dari kemajemukan ini bukanlah mencari perbedaan yang mengarah pada perselisihan, melainkan kita memiliki perbedaan yang nantinya akan saling menjadi pengingat di antara kita. Multikulturalisme itu sendiri jangan sampai disalahartikan. Kita jangan sampai mencampur adukkan makna multikulturalisme itu sebagai suatu proses mengacak-acak dan menggabungkan tradisi umat beragama ataupun tradisi dari suku-suku tertentu. Masyarakat Serangan yang memiliki semangat multikulturalisme tidak harus memaksakan budaya mereka agar bercampur satu sama lain, dengan menghilangkan identitas tradisi masing-masing suku. Melainkan multikulturalisme itu meletakkan keberagaman pada tempat yang sangat tinggi. Merupakan suatu pemahaman yang keliru jika kita memiliki semangat multikulturalisme maka kita harus mencampur semua kebudayaan yang ada.
Begitu pula yang terjadi pada suku Bugis dengan masyarakat Hindu Serangan. Walaupun sudah hidup berdampingan selama beratus-ratus tahun, namun kemajemukan kehidupan mereka sama sekali tidak menghilangkan indentitas budaya dan agama mereka masing-masing. Melainkan semangat multikulturalisme itu mereka tunjukkan dengan saling menghargai tradisi dan kepercayaan di antara mereka.
Jika kita tilik dari pengertian multikulturalisme itu sendiri sebagai pandangan yang mendorong adanya kerjasama, kesederajatan dalam dunia yang tidak lagi terdiri dari hanya satu budaya, kita seharusnya menggunakan paham ini sebagai usaha bersama untuk menuju persatuan di antara kita sebagai warga Indonesia. Ini tentunya dapat mengurangi terjadinya sentimen antar etnis, perselisihan antar suku maupun antara pemeluk agama yang berbeda.
Masyarakat pulau Serangan ini, diharapkan bisa menjadi contoh hidup yang harmonis antar suku yang berbeda bagi daerah di Bali khususnya dan Indonesia umumnya, bahwa kemajemukan itu bisa hidup berdampingan secara harmonis. Tidak saling menekankan dan mementingakan tradisi mereka masing-masing. Melainkan memiliki rasa toleransi yang begitu besar.
Tapi apakah suatu saat nanti masyarakat Serangan akan mampu mempertahankan semangat multikulturalismenya atau malah ikut-ikutan menyusul konflik Poso, kasus Sampit, dan konflik Ambon. Perbedaan kita yang unik ini bukanlah digunakan untuk mencoreng identitas kebangsaan kita yang terkenal religius, toleran, dan dibesarkan oleh kemajemukan.