• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

Sosok yang tidak banyak omong, dan suka menyendiri tergambar jelas dalam diri Nanda. Namun, di balik dirinya yang tertutup itu, ada api kecil yang terus ia jaga, sampai membara.

      I Nyoman Nanda Baskara, adalah seorang siswa kelas X, SMA Negeri 3 Denpasar. Orangnya agak berisi, berkulit sawo matang, dan selalu memiliki sesimpul senyum di sudut bibirnya. Terlihat polos dan tidak ada perbedaan dengan remaja laki-laki seusianya. Hobinya pun tidak jauh berbeda dengan remaja laki-laki pada umumnya, yaitu bermain game. Namun, ke polosannya yang terlalu menjadi-jadi tersebut, membuat orang-orang di sekitarnya menjadi agak tidak enak ketika harus berkomunikasi dengannya.

      “Aku nggak menghindar dari orang-orang. Cuma ngomong kalo mau didengerin aja,” ucap remaja kelahiran Denpasar, 26 Juli 2000 ini. Sangat sedikit kata-kata yang mau keluar dari mulutnya ketika diajak ngobrol. Tapi, dibalik sikap diamnya itu, Nanda ternyata memiliki pengalaman yang kelam ketika SMP. Pengalaman yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.

    “Pas kelas 2 SMP, aku sering di bully sama temen-temen sekelas,” ujarnya ketika di wawancarai Sabtu (26/3). Kasus pembullyan memang banyak sekali ditemukan di kalangan pelajar. Nanda adalah salah satu korbannya. Seringkali diejek karena tidak jago bermain game, membuatnya sampa pernah menangis di sekolah. Pembullyan yang terus-menerus ini mempengaruhi mentalnya sampai sekarang.

     Meskipun begitu, ia tidak mau terus tercekam dalam trauma masa lalunya yang kelam. Nanda gemar menggambar sejak kecil. Laki-laki penggemar warna kuning ini mengaku senang menumpahkan emosinya lewat menggambar. Tak main-main, cita-citanya adalah menjadi seorang arsitek. Karena hobinya tersebut, saat ini ia dikenal banyak orang karena jago membuat karikatur. Bahkan, goresan tangan dan luapan idenya yang cemerlang, membuatnya meraih peringkat artistik terbaik dalam Lomba Kording Akademika. Hal ini membuatnya ingin terus belajar dan perlahan-lahan terlepas dari trauma masa lalu.

     “Yah, masa kelam itu sudah berlalu. Kini saatnya mengejar masa depanku.” (nan)

Pengunjung Lainnya

We have 138 guests and no members online