• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

Isu terkait kekerasan terhadap siswa di sekolah merupakan fenomena yang sangat memprihantinkan. Semua pihak, dari guru sebagai seorang pendidik, bahkan sampai sesama siswa ikut terlibat dalam masalah ini. Termasuk terkait perdebatan penegakan sistem senioritas dan junioritas di kalangan siswa.

 

     Paham senioritas dan junioritas telah membelenggu kalangan siswa sejak lama. Siswa senior merasa dirinya memiliki kekuasaan untuk mengatur kegiatan juniornya. Yang junior, mau apa? Bentak sedikit, habis sudah ‘nyawanya’. Pekik dan teriakan sang senior sudah jadi asam-garam di sekolah. Tinggal pilih, kekerasan fisik, verbal, atau psikis. Sekolah yang seharusnya menjadi sarana pembelajaran, justru mematung bak saksi bisu segala perbuatan tak terpuji dari kakak kelas. Mengutip pada penelitian Andini Pratiwi (2012) dari UIN Jakarta, Komnas Perlindungan Anak (KPA) mendata angka kekerasan di sekolah pada tahun 2009 meningkat hingga 20% dibandingkan dengan tahun 2008.

     Banyak siswa senior belum menyadari paradigma ini justru menjadi tradisi yang mendarah daging bagi generasi-generasi penerusnya. Rasa dendam yang dimiliki sewaktu menghadari cacian para senior justru akan membekas di lubuk hati yang paling dalam. Selain itu, menurut penelitian Andini Pratiwi sebelumnya juga menemukan bahwa faktor yang menyebabkan siswa senior melakukan aksi kekerasan adalah faktor teman sebaya dan lingkungan sekolah dimana mereka berada, keluarga yang kurang harmonis, serta pengaruh media massa. Kegiatan-kegiatan bertajuk, “Masa Orientasi Siswa”, “Latihan Dasar Kepemimpinan”, dan lain sebagainya, dijadikan sebagai masa penghakiman siswa. Pada penelitian Andini Pratiwi sebelumnya, disebutkan pula bahwa para junior juga harus menuruti segala permintaan senior, termasuk menjadi anggota tawuran dengan sekolah lain.

    Paradigma ini membuahkan efek membesar seiring berjalannya waktu. Siswa junior selalu menjadi korban. Bukan hanya fisik yang tersakiti. Psikis dan mental juga terbebani. Siswa akan menjadi selalu merasa takut, stres, dan tertekan. Yang akhirnya dilampiaskan pada lingkungan sekitarnya serta adik-adik kelasnya nanti.

    Rantai senioritas dan junioritas harus segera diputuskan. Lewat kesadaran yang ditumbuhkan oleh masing-masing individu. Kegiatan pendidikan karakter juga dapat dilakukan untuk membantuupaya tersebut. Sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan pembinaan karakter yang aktif dan menyenangkan, agar siswa tak lagi mengalami trauma dari kekerasan para senior. Rasa sakit terdahulu dapat segera hilang dari benak. Digantikan dengan sikap-sikap toleransi dan persatuan.
Siswa harus diajarkan, bahwa setiap makhluk hidup itu sama. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Harus selalu menghormati dan menghargai antarsesama. Karena pada dasarnya, orang yang lebih tua itu dihormati karena pengalaman hidup yang lebih dahulu, bukan karena kesombongan serta sikap apatis terhadap si pemula. Selamat Tinggal Senioritas!

Pengunjung Lainnya

We have 28 guests and no members online