• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Tidak ada namanya kata bersatu. Masyarakat Bali telah memilih antara 2 kekuatan, kekuatan yang mematahkan persaudaraan yang ada entah sejak kapan dan sampai kapan.

       Tiga tahun lamanya masalah reklamasi bersemayam dalam benak masyarakat Bali. Jika ditanya mengapa kontra, alasannya karena dampak lingkungannya. Jika ditanya mengapa pro, alasannya untuk membuka lapangan pekerjaan.

    Akhir-akhir ini gelombang pro reklamasi kian bersua. Bertambahnya jumlah masyarakat Bali yang menyampaikan pernyataan pro dan aspirasi mereka sewaktu gubernur bali I Made Mangku Pastika mengundang masyarakat bali yang kontra terhadap reklamasi datang dan menyampaikan aspirasi di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) pada hari Minggu, (3/04) di Lapangan Niti Mandala Renon.

     “Jauh lebih banyak dari yang dulu” Ungkap Made Armini (40), salah satu warga yang menonton hal tersebut. Wanita berparas manis itu juga berpendapat bahwa Bali memerlukan sarana prasarana serta ruang baru yang lebih baik untuk memajukan pariwisata. “Tapi bukan berarti investor ingin menguasai bali” Imbuhnya lagi sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Menurut pendapat Wanita asal Negara ini, investor telah melakukan banyak hal untuk Bali. “Investor itu juga manusia pastilah ada sisi baiknya. ”Ucapnya sangat yakin hingga dahinya membentuk kerutan.

     Tentu, pernyataan dari wanita yang akrab disapa Armini ini disanggah habis-habisan oleh warga yang kontra akan reklamasi. Bagi Wayan Adiperana (47) investor hanya mencari keuntungan pribadi semata tanpa memikirkan bagaimana bali mendatang. “Ketika Bali sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi, investor pasti meninggalkan bali begitu saja. ”Tegasnya dengan jari telunjuk yang mengacung. Pengembangan pariwisata Bali tak harus dilakukan dengan cara merusak alam. “Kita memiliki budaya, seharusnya itu yang harus selalu dikembangkan bukan sarprasnya.” Tuturnya dengan gesture mantapnya.

     Dilansir dalam situs www.change.org terdapat 2 petisi yang menyangkut masalah reklamasi teluk benoa. Namun keduanya memiliki jumlah pendukung yang jauh berbeda. Jumlah masyarakat yang menandatangani petisi menolak reklamasi teluk benoa adalah 49.698 orang sedangkan jumlah masyarakat yang menandatangani petisi mendukung reklamasi teluk benoa hanya 39 orang.

    Berhembus kabar yang membuat masalah reklamasi ini semakin panas yaitu pemerintah telah dibayar oleh investor untuk menyetujui reklamasi teluk benoa, namun karena uang yang diberikan telah digunakan, sehingga pemerintah tidak berani mengambil tindakan untuk membatalkan reklamasi teluk benoa. Menurut Wayan Gede Adiperana pemerintah dapat dikatakan menjual bali. “Mungkin Bali gak ada artinya bagi mereka.” ungkapnya dengan tawanya yang penuh akan sindiran. Benar atau tidaknya, menurutnya ketika telah terdengar kabar seperti ini, tentunya masyarakat bali tidak akan tinggal diam. “ “Harus diselidiki itu, kalau sampai ketahuan memalukan sekali” Jelasnya dengan nada menantang.

    Problematika yang menuai pro dan kontra ini layaknya perang yang tak kunjung usai. Menyama braya telah hilang bersamaan dengan kandasnya harapan persatuan Bali. Lalu siapa yang akan menang, pro atau kontra? Jawaban yang paling bijak, hanya waktu yang akan menjawabnya. (bpe/vnd)

Pengunjung Lainnya

We have 61 guests and no members online