• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

Sukanya nonton film horror, prestasinya di bidang penelitian, cita-citanya jadi hakim. Gadis cantik ini memang menyukai hal-hal baru yang menantan, dan yang terpenting orangnya asik!

       Membawa nama Indonesia sampai ke ajang internasional tentunya tidak mudah. Hal itulah yang dirasakan oleh Ni Ketut Ayu Krisma Dewi, ketika mewakili Indonesia bersama rekannya, Putu Sri Indah Cahyani, pada ajang International Environment Sustainability Project Olimpiad (INESPO) 2016, di Belanda. Temuan mereka, yakni pemanfaatan limbah kulit kakao sebagai superkapasitor. “Saya sama Indah buatnya itu betapa... susah, literature sedikit, dan cuma make alat tes prototype yang apa adanya,” jelasnya ketika diwawancarai via Line, Sabtu (18/06) lalu. 

      Sikap cintanya terhadap lingkungan, membawa Krisma ke penelitian ini. Kebetulan, di kampungnya di Karangasem ada pohon coklat yang pastinya menghasilkan banyak sampah. “Dari sana pengen buat limbah bisa bernilai ekonomis tinggi,” terangnya. Menyusun penelitian hanya selama satu minggu, gadis kelahiran Negara, 25 Juli 1998 ini, mengaku terburu-buru. Dihadapkan dengan waktu yang singkat, serta berbagai rintangan lain, penelitian ini tetap dilanjutkannya. “Pengen jaga lingkungan kita, terus membuat perubahan kecil, tapi berdampak yang besar. Secara sekarang jamannya penggunaan energy yang boros banget. Intinya nyelametin lingkungan.”

       Dunia tulis menulis sudah Krisma geluti sejak duduk di kelas 3, SMP Negeri 3 Negara. Tak heran, ketika masuk di bangku SMA, ia berhasil meraih juara 3 dalam Lomba Tingkat Nasional Penelitian ISPO 2016, dan mendapat Encouragement Award di ajang INESPO 2016 tingkat Internasional. Selain itu, ia juga pernah mengikuti Lomba Dialog Budaya Tingkat Kabupaten dan mendapatkan juara 2.

     Di balik dirinya yang terlihat lekat dengan dunia tulis menulis dan cinta lingkungan, Krisma adalah orang yang peduli terhadap bangsa dan negaranya. Sejak SD, ia sudah bercita-cita menjadi seorang hakim. Bahkan, di salah satu foto Instagramnya, terdapat foto dirinya yang memegang sebuah papan bertuliskan ‘Calon Hakim’. “Bukannya gimana ya, tapi jadi hakim jujur karena ingin memberantas kejahatan di Indonesia. Taulah penegakan hukum di Indonesia belum adil.” Tak tanggung-tanggung, idolanya adalah dua orang yang paling penting di Indonesia. Sikap bijaksana, adil, dan pantang menyerah, membuat dirinya mengidolai, Soekarno dan Moh Hatta. (nan)

Pengunjung Lainnya

We have 113 guests and no members online