• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

Berawal dari keresahannya dengan keadaan kota Denpasar yang sekarang, Gung Yudha menuangkan perasaannya tersebut dalam sebuah film yang berjudul “Tutur Kota”.

     Raut wajah serius para penonton, ditambah suasana hening di dalam gedung Ksiarnawa Art Center mengisyaratkan filmnya sukses menggugah hati penikmatnya. Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha, memang sudah lama berniat untuk membuat film mengenai ibukota provinsi Bali, Kota Denpasar. Keresahannya akan kondisi kota yang semakin memadat dan tidak sama seperti yang dulu adalah penyebabnya.

     “Dalam film, saya juga ada memasukkan unsur yang sedikit nyentil, yaitu adegan yang menunjukkan perilaku orang jaman sekarang yang lebih akrab dengan gadget daripada dengan orang di sekitarnya. Jadi kan itu suatu bentuk refleksi diri juga, sebagai orang Bali yang dikenal karena keramahannya,” tutur Yudha, panggilan akrabnya, ketika diwawancarai seusai filmnya diputarkan pada Rabu, (15/06).

     Film dokumenter ini, ia garap sendiri selama tiga minggu. Ketika mendengar bahwa Dinas Kebudayaan Kota Denpasar memerlukan film tentang Bali untuk acara Festival Film Pekan Kesenian Bali tahun 2016, langsunglah ia menyusun rencana untuk film ini. Penentuan plot, pengambilan gambar, sampai editing, ia lakukan sendiri. Sebagai orang yang sudah pernah menggarap film dokumenter sebelumnya, pria kelahiran 10 Januari 1988 ini mengaku dapat lebih peka dalam menangkap momen. “Contohnya pada adegan orang menabuh kendang itu. Awalnya itu saya cuma lagi jalan jalan aja. Trus tiba tiba denger ada suara kendang dari kejauhan. Karena bagus, langsung saya cari orangnya, dan saya videoin,” begitu ceritanya.

      Bagi Yudha, berkecimpung dengan dunia pembuatan film dokumenter membuatnya menjadi pribadi yang lebih penyabar. Jika dibandingkan dengan film fiksi, setiap adegan dalam film dokumenter tidak dapat diatur dalam naskah. “Ini seperti berserah diri kepada Tuhan yang Maha Esa aja. Kalo misalnya ada gambar yang salah, mau marah ke siapa coba? Kita cuma bisa, sabaarr,” ungkap Yudha sambil menaruh tangan di dada, dengan perawakannya yang humoris dan santai.

     Dunia film bagaikan sarana bagi Yudha untuk mencurahkan kepeduliannya terhadap segala kondisi di lingkungannya kini. Ia menyampaikan permasalahan yang ada kepada masyarakat, dalam kemasan yang enak dinikmati. Karena baginya, film itu bahkan sama kuat pengaruhnya dengan propaganda di jaman penjajahan dahulu. “Tau Adolf Hitler? Propagandanya dulu disampaikan melalui film yang diputar terus menerus, hingga bisa mempengaruhi orang-orang,” terangnya.

      Pada akhir wawancara, lelaki berkacamata ini tak lupa mempromosikan bandnya yang berjiwa sama seperti dirinya. Peduli dengan asam basa kehidupan jaman sekarang. “Jangan lupa subscribe yaa. Cari aja MR HIT BAND di youtube. Oke?”(kew/nan)

Pengunjung Lainnya

We have 117 guests and no members online