• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Dua dari lima film yang diputar pada Sesi Indonesia Raja - Denpasar/Bali mempesona penonton di ajang  Minikino Film Week  2015. Kedua film itu karya Agung Yudha (Tok Tok Tok) dan Oka Sudarsana (Besok Saya Tidak Masuk Sekolah).

      Film 'Besok Saya Tidak Masuk Sekolah' menceritakan tentang sosok Ginar, anak SD (Sekolah Dasar) yang mengerjakan PR hingga larut malam. Esoknya ia menempuh perjalanan berat menuju sekolah. Namun nasiib berkata lain baginya. Tiba di sekolah ternyata tidak seperti yang diharapkan Ginar. Film fiksi berdurasi 16 menit ini begitu menyentuh. "Idenya berawal dari seorang teman dari Yayasan Anak Alam yang bercerita tentang perjuangan anak-anak di Kintamani yang harus berjalan kaki naik turun bukit dan jurang selama dua jam untuk dapat bersekolah," tutur Oka Sudarsana sang sutradara film 'Besok Saya Tidak Masuk Sekolah' saat sesi diskusi usai pemutaran filmnya. 

     Secara keseluruhan, film garapan Oka Sudarsana memilih penuturan yang lambat namun menyentuh. Pilihan ini sengaja dipilih sang sutradara dengan tujuan film ini mengajak penonton untuk melakukan meditatif melalui film. Keunggulan film ini dari segi pesan yang kuat dan menyentuh tentang persoalan pendidikan dan kemiskinan di tengah gemerlap pariwisata Bali. Angle sinematografinya mampu memotret terjalnya 'perjalanan' seorang siswa kelas 2 SD untuk berangkat ke sekolah menyusuri tebing, jurang, buki dan hutan di kawasan Kintamani. Sekaligus menampilkan gambar-gambar indah tentang pagi hari di perbukitan kawasan Kintamani. Menariknya lagi film bergenre drama tanpa dialog sama sekali. Suguhan visual yang apik mampuh menyihir dan menyentuh hati penonton. 

     Satu hal yang perlu dicermati dalam film ini bagi penonton yang biasa menonton film dokumenter, maka penonton  akan menangkap rasa dokumenter dalam film fiksi. Itu tak mengejutkan mengingat sebagian crew film Oka Sudarsana adalah filmmaker yang  biasa menggarap film dokumenter justru  menjadi pembeda dan bumbu apik film ini. Walau begitu tak ada gading yang tak retak, begitu juga film ini. Andai saja Oka Sudarsana menjaga dan berpegang teguh pada prinsip garis imajiner film, maka film ini tidak hanya menyentuh tetapi semakin apik dan memikat. Soal garis imajiner film ini memang terkadang dilupakan (sengaja atau tidak sengaja) oleh filmmaker muda. Padahal dalam film yang 80% ceritanya tentang perjalanan Ginar ini menuntut konsistensi sutradara dengan prinsip garis imajiner. Sehingga kalau disimak secara cermat pada beberapa bagian perjalanan Ginar terasa secara visual gerak perjalanan Ginar seolah 'gerak maju - mundur'. Padahal seharusnya gerak perjalanan Ginar adalah 'gerak maju'. Terlepas kekurangan tersebut, film ini patut ditonton sekaligus untuk mengetahui setelah tiba di sekolah, kejutan apa yang didapati Ginar. 

     Tok Tok Tok 


     Lain Oka Sudarsana, lain lagi Agung Yudha. Agung Yudha yang mengawali membuat film ketika masih di bangku SMA dan bergabung dalam Madyapadma Journalistic Park - SMAN 3 Denpasar ini lebih memlih genre horor yang diselipi komedi. Gaya horor dengan balutan komedi memang menjadi ciri mayoritas film-film fiksi garapan Agung Yudha.

     Pada film 'Tok Tok Tok' ini  Agung Yudha mencoba menuturkan ide tentang batas antara dunia manusia dan dunia di luar kehidupan  manusia itu hanya setipis kertas. Tidak jarang jika kita membicarakan 'mereka', kita telah dikunjungi langsung oleh 'mereka'. Menonton film ini, sejak awal penonton disuguhi dengan ketegangan yang merayap secara berlahan yang dibangun dengan selipan kesegaran komedi situasi  membikin bulu kuduk merinding. Film ini menceritakan sekelompok anak muda dalam suatu rumah di pedesaan yang gelap. Anak muda tersebut bercerita tentang mitos horor. Di tengah obrolan yang membangun ketegangan yang merayap  ini dikejutkan ketukan pintu: tok tok tok! Ketukan yang membuat sekelompok anak muda itu ketakutan sendiri. Ketakutan itu juga merayap disebagian besar penonton yang hadir menyaksikan film ini di hari pertama Minikino Film Week 2015. Dalam kondisi takut - takut, sekelompok anak muda ini terpaksa membuka pintu secara perlahan. Dan, ketika pintu terbuka: serentak penonton yang hadir menjerit ikut ketakutan! 

     Kemampuan Agung Yudha yang membetot nyali dan jantung penonton ini merupakan satu dari beberapa keunggulan film ini. Keunggulan lainnya, film ini alurnya sederhana dan berhasil tahapan menuju klimaks. Selain itu film ini juga cocok sebagai film pendek. Walau begitu  secara sinematografi masih ada sedikit kekurangan yaitu beberapa gambar agak goyang walau tidak terlalu mengganggu. Bagaimana, anda tertarik menguji nyali? Datang dan tonton saja film ini.

     Selain dua film tersebut, tiga film lainnya dari sesi Indonesia Raja  - Denpasar/Bali ada tiga film lainnya. Film animasi 1 menit (How The World Teaches Happines To People) juga garapan Agung Yudha. Juga ada film 'Kresek' karya Putu Satriya dan film 'Pakeling' produksi Dwitra J. Ariana. Menonton film 'Kresek' dan 'Pakeling' terasa seperti menonton film panjang yang dipaksa pendek. Terasa seperti itu karena film ini menjejalkan terlalu banyak 'pesan' dalam satu film yang berdurasi pendek. Hanya saja secara ide, kedua film ini cukup menarik.

     Nah, ingin menggugah sentuhan kemanusian dalam diri kita sekaligus menguji nyali diri, kamu masih dapat menonton sesi Indonesia Raja - Denpasar/Bali hari ini Selasa (13/10) jam 18.00 - 19.15 di OMAH Apik  - Pejeng. Dapat juga menontonnya hari Kamis (15/10)  di Divine Earth - Seminyak (19.00 - 20.00), Si Kuno di Jl. Gandapura III - Denpasar (18.00 - 19.15) dan di Rumah Film Sang Karsa - Singaraja (17.00 - 18.15). Nah, tunggu apa lagi! (Tim MP)

Pengunjung Lainnya

We have 66 guests and no members online