• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Tajuk

Jual-beli kupon bazzar sedang nge-trend akhir-akhir ini. Banyak yang sibuk kesana-kemari menjualkan kupon bazzar sesuai target, hingga sering terdengar kalimat ini; “Beli kupon bazzarku dong, murah kok. Harus kejual semua, nih,”

       Sejak awal Bulan Maret hingga April, banyak remaja yang menerima misi menjualkan kupon bazzar untuk penggalian dana pada pihak-pihak tertentu. Tak dapat dipungkiri, beberapa siswa-siswi SMA Negeri 3 Denpasar pun juga turut ‘berpartisipasi’ dalam adu jual kupon bazzar. Salah satunya ialah Aditya Dananjaya, siswa kelas X IPS, “Yang harus saya jualkan sekarang adalah kupon bazzar dari banjar saya dan ekstra Bangken Dongkang,”. Adit mengaku, dalam proses penjualan kupon bazzarnya Ia sempat mengalami hambatan karena akhir-akhir ini banyak yang mengadakan bazzar dari berbagai organisasi kepada khususnya remaja dan hal ini sedikit mengganggu waktunya.

       Berbicara tentang penggalian dana dalam kupon bazzar, Dra. Ni Made Sumadi selaku salah satu guru di SMA Negeri 3 Denpasar mengatakan bahwa pemenuhan dana melalui penjualan kupon bazzar mempunyai dua sisi; negatif dan positif. Jika tujuannya jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, maka hal tersebut patut dilaksanakan. “Jika hasil untungnya dipakai hura-hura, ya sudah jelas menyimpang,” ujarnya. Beliau menambahkan pula, apabila dalam pelaksanaannya, pihak penjual kupon merasa dipaksa harus menjualkan hingga habis, hal ini juga termasuk menyimpang. “Penggalian dana memang suatu kebutuhan bagi yang melaksanakan hal tersebut, namun perhatikan juga bahwa jika hanya bergantung pada penjualan kupon bazzar saja, itu tidak kreatif dan sudah menyimpang,” tegas Sumadi kembali.

       Hal yang sama diungkapkan oleh siswi kelas X IPS, Risma Widayanti “Saya jualin kupon dari banjar untuk perbaikan pura. Tapi nggak enaknya sama temen-temen, harus sedikit maksa beli agar terjual, jadi terkesan kurang kreatif,” akunya. Terlihat, penjualan kupon bazzar pada setiap kebutuhan menimbulkan beberapa pihak yang merasa tertekan. Melihat fenomena ini, Sumadi menyarankan beberapa hal, “Penggalian dana tidak harus menjual kupon bazzar. Cara lain yang lebih kreatif dan menyenangkan masih banyak, salah satu contohnya bisa buka stand jual pakaian bali. Selain menguji jiwa wirausaha, juga mendapat pengalaman,”. Antara kebutuhan dan rasa kreatif, intinya penjualan kupon bazzar jangan dibawa repot. Melainkan ajukan kepada pihak berwenang untuk mengubah sedikit konsep penggalian dana menuju hal yang lebih kreatif. (svt) 

Pengunjung Lainnya

We have 99 guests and no members online