• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

Oleh : Luh Putu Regita Septa Dewi

       Pada jenjang Sekolah Menengah Atas, standar kelulusan tidak hanya terpaku pada nilai ujian nasional, namun nilai akhir kelulusan didapat dengan mengakumulasikan 60% nilai ujian nasional (UN) dan 40% nilai ujian akhir sekolah (UAS). Ujian akhir sekolah diselenggarakan oleh sekolah masing-masing, pemerintah pusat hanya menyusun dan mengeluarkan pedoman yang bersifat umum. UAS merupakan ujian terakhir dari serangkaian persiapan sebelum melaksanakan ujian nasional untuk siswa kelas XII.

       Dengan diadakannya UAS, para guru dapat mengetahui apakah materi yang diberikan oleh masing-masing guru mata pelajaran telah sampai dengan baik dan dapat dipahami oleh para siswa serta sebagai pengukur seberapa luas ilmu yang didapat siswa setelah mengenyam pendidikan selama 3 tahun. Positifnya, pelaksanaan UAS ini secara tidak langsung menuntut siswa agar fokus belajar dan pikiran serta niat untuk melakukan hal negatif pastinya akan berkurang.

       Tidak dipungkiri, setiap siswa tidak terkecuali akan merasakan ketakutan atau stres setiap menjelang pelaksanaan ujian. Dimana, fungsi sekolah disini merupakan sarana mengasah pengetahuan dan meningkatkan kreatifitas siswa, bukan malah sebagai sesuatu yang perlu ditakuti oleh siswa. Ketakutan tersebut nantinya akan mempengaruhi siswa dalam menjawab soal-soal ujian. Efeknya? Hasil ujian tidak dapat sepenuhnya mencerminkan kualitas ilmu yang dimiliki oleh pribadi siswa.

       Bagaimana mengatasinya? Pemerintah sebaiknya dapat menghilangkan image yang menimbulkan ketakutan siswa terhadap pelaksanaan ujian. Dan dari siswa sendiri, agar menanamkan prinsip, bahwa tidak akan ada pendidikan yang baik dan berkualitas tanpa kerja keras dan usaha. Jika dilakukan dengan maksimal, hasil yang diperoleh pasti akan maksimal, percaya?

Pengunjung Lainnya

We have 132 guests and no members online