Kiprah Penerbitan Buku Madyapadma : Banyak Jalan Menuju Roma

Dunia penerbitan buku terkadang terasa menyeramkan. Jika ditilik lebih dalam terdapat penulis yang berakhir dengan mengubur mimpinya dalam-dalam. Namun, bukan Madyapadma kalau tidak memiliki seribu satu cara, ‘Banyak Jalan Menuju Roma’ , banyak cara juga bagi Madyapadma menerbitkan buku karyanya (04/07).

       Pojok kecil di ruang Prajna Paramitha itu sarat dengan buku. Sekelilingnya terdapat tiga rak coklat yang menjadi tempat bernaung jutaan kata yang terlukis di tiap-tiap lembarnya. Menjadi sosok guru walau hanya membisu serta membagi ilmu yang tersimpan di tiap lembarnya. Puluhan buku bercorak pelangi menjadi bukti perjalanan Madyapadma Journalistic Park khususnya (MP) pada bidang buku. Total 67 buku yang telah berhasil diterbitkan Madyapadma Journalistic Park. Buku-bukunya pun beragam mulai dari kumpulan karikatur, kumpulan cerpen, kumpulan artikel hingga mengangkat masalah-masalah yang cukup berat untuk anak usia belasan. Tak hanya itu, melihat berbagai prestasi anggota Madyapadma di bidang penelitian, ya sudah diduga setidaknya bidang buku telah menerbitkan beberapa seri ilmiah.
      “Madyapadma selalu berusaha menggali potensi setiap anggotanya misalnya dia punya kelebihan dalam membuat cerpen, kita bakal dorong mereka agar bisa menerbitkan buku kumpulan cerpen sendiri ataupun bidang ilmiah. Pokoknya apapun kelebihan anggota kita bakal mendukung sampai bisa menghasilkan sebuah karya dalam bentuk buku juga,” tutur Mutiara Diva Ramadhani (16) ketua desk buku MP 41. Sisw-siswi dibawah naungan Madyapadma Journalistic Park ini seolah tak pernah kehabisan akal. Sejak angkatan 25 berhasil menerbitkan sebuah buku dengan mengambil tajuk problema yang ada disekitar, para penerusnya terus melanjutkan “warisan” tersebut. Tiap tahunnya selalu saja terdapat satu dua buku yang diterbitkan. “Pembuatan buku di MP gampang aja sih. Yang penting punya karya yang layak untuk ditampilkan dalam artian gak mengandung unsur SARA, pornografi dan sejenis itu. Terus karyanya itu biasanya akan direvisi pembina MP,” ceritanya kalau Madyapadma akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.
      Sulitnya menerbitkan buku di penerbit mayor tak mampu menggetarkan niat anggota Madyapadma Journalistic Park untuk menghasilkan karyanya . Untuk membuktikan bahwa mereka memang mampu dan layak. Ada banyak jalan menuju Roma, ada banyak cara juga bagi anggota MP untuk menerbitkan karya-karyanya. Mutiara Diva juga mengungkapkan bahwa buku hasil karyanya dibuat karena ingin merealisasikan keinginannya sejak kecil. Ia juga mengungkapkan bahwa buku tersebut akan menjadi bukti fisik kalau dirinya memang bisa dan mampu juga menulis, bukan sekedar omongan belaka. Disatu sisi, tahun 2019 ini Madyapadma Journalistic Park kembali menyiapkan buku-buku yang akan diluncurkan berbarengan dengan acara tahunan Madyapadma yakni acara Presslist. Lika-liku penerbitan buku kembali dihadapi anggota MP. “Proses penerbitan buku mp untuk tahun ini masih di pengumpulan materi buku. Materi buku yang sudah benar-benar terkumpul baru satu. Sisanya masih dalam proses. Sejauh ini sih semuanya berjalan sesuai time schedule,” jelas I Nyoman Lanang Putra Pandu (16) Koordinator Bidang Buku Presslist 10 & Festival Buku Madyapadma 2019. Di akhir, Lanang Putra juga menyampaikan harapannya semoga Presslist 10 & Festival Buku Madyapadma 2019 dapat berjalan lancar, proses penerbitan buku juga berjalan lancar. Lanang juga menaruh harapan besar agar nantinya buku-buku karya anggota Madyapadma dapat menginspirasi banyak orang. (dyt/sa/ade)

We have 53 guests and no members online

'Dia' yang Tidak Hadir
      Siapa yang berbuat salah, dialah yang menerima hukumannya. Negri kita kini telah diramaikan
'Lesu' di Akhir Tahun
 Menjelang akhir tahun 2018 jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi Bali mengalami penurunan.
'Nyawa' Kita Ditentukan
Segerombolan muda mudi seketika memenuhi ruang Prajna Paramita saat jam pulang sekolah tiba. Mereka
‘Doa’ Menghantui
“Secara umum permasalahan manajemen seni di Bali disebabkan ‘Doa’ yang tidak bagus,” tegas pekerja
‘Nestapa’ Jadi Siswa:
“Menghafal materinya itu banyak. Apalagi menjelang ulangan. Ditambah guru-guru menuntut kami agar